Kabupaten Kutai Barat

Kabupaten Kutai Barat

Kabupaten Kutai Barat – Profil Daerah ini Kabupaten Kutai Baratakan memberikan gambaran umum tentang kondisi daerah baik secara fisik, karakteristik sosio-demografis, kondisi sosial budaya, perekonomian daerah, sarana dan prasarana (infrastruktur), Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan sumber pembiayaan, kinerja pembangunan meliputi strategi penanggulangan kemiskinan  yang telah dilaksanakan di Kabupaten Kutai Barat.

Gambaran Umum Kabupaten Kutai Barat

Kabupaten Kutai Barat dengan Ibukota Sendawar merupakan pemekaran dari wilayah Kabupaten Kutai (saat ini Kabupaten Kutai Kartanegara) yang telah ditetapkan berdasarkan UU. Nomor 47 Tahun 1999. Wilayah yang menjadi batas Kabupaten Kutai Barat adalah Kabupaten Malinau dan Negara Serawak (Malaysia Timur) di sebelah Utara, Kabupaten Kutai Kartanegara di sebelah Timur, Kabupaten Pasir di sebelah Selatan dan untuk sebelah Barat berbatasan dengan propinsi Kalimantan Tengah serta Propinsi Kalimantan Barat. Luas dan Letak Geografis.

 

Kondisi Geografi dan Iklim

Kabupaten Kutai Barat mempunyai luas 31.628,70 Km2,   dan terletak antara 113048’49’’ sampai dengan 116032’43’’ Bujur Timur serta diantara 1031’05’’ Lintang Utara dan 1009’33’’ Lintang Selatan (kurang lebih 15% dari Propinsi Kalimantan Timur) memanjang dari barat ke timur, berbatasan dengan Kabupaten Malinau dan Negara Serawak di sebelah utara, dengan Kabupaten Kutai Kertanegara di sebelah timur, Kabupaten Pasir di sebelah selatan, dan dengan Propinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat di sebelah barat.

Iklim. Keadaan iklim di Kabupaten Kutai Barat terkadang tidak menentu. Pada bulan-bulan yang seharusnya turun hujan dalam kenyataannya tidak hujan, atau sebaliknya pada bulan-bulan yang seharusnya kemarau bahkan terjadi hujan dengan dengan musim yang lebih panjang. Kutai Barat yang diliputi oleh hutan tropis memiliki curah hujan rata-rata berkisar antara 1.411 mm/tahun (stasiun Muara Kedang) hingga 2.907 mm/tahun (stasiun Long Iram). Distribusi curah hujan menunjukan dua pola yang dominan, yaitu pola A (pola curah hujan tunggal, musim hujan dan kemarau terjadi satu kali dalam satu periode) dan pola C (dua puncak hujan terjadi dalam setahun). Temperatur rata-rata bulanan berkisar antara 25º – 27.1º dengan nilai rata-rata per tahun 26.5º. Suhu tertinggi terjadi pada bulan Agustus – September. Kelembaban relatif berkisar antara 83 – 87%, dengan kelembaban rata-rata tertinggi pada bulan Mei – Juni dan kelembaban terendah pada bulan Maret.

Karakteristik Biofisik 

Topografi. Topografi wilayah Kabupaten Kutai Barat didominasi oleh tingkat elevasi curam (49,45%) dan agak curam (21,74%), dan selebihnya dengan kondisi datar, agak landai dan landai. Wilayah berbukit dan bergunung di jumpai bagian hulu Sungai Mahakam, terutama Kecamatan Long Bagun, Long Pahangai, dan Long Apari.

Fisiografi. Fisiografi Kutai Barat dapat dikelompokkan menjadi 8, yaitu Alluvial Jalur Kelokan, Rawa-rawa, Lembah, Teras-teras, Dataran, Perbukitan dan Pegunungan, bentuk lahan dominan adalah daerah dataran (38%), perbukitan (22%) dan pegunungan (32%).

Tanah.  Jenis tanah yang ditemui mencakup Ultisol seluas 2.229 ribu ha atau 70,74%; Inceptisol seluas 799 ribu ha atau 25,25% (di wilayah hulu sungai mahakam); Histosol seluas 54 ribu ha atau 1,72% (di kecamatan Muara Pahu, sekitar Danau Jempang dan Muara Kedang); Entisol seluas 32 ribu ha atau 1,02% (di kecamatan Muara Pahu dan Melak); Mosol seluas 3000 ha atau 0,11% (di kecamatan Long Bangun dan Long Hubung); dan spodosol seluas 0,6 ribu ha atau 0,02% (di kecamatan Muara Pahu).

Sistem Lahan.  Kabupaten Kutai Barat dikelompokkan menjadi 31 sistem lahan, yaitu Tanjung, Sebangau, Karu, Mendawai, Gambut, Paninggir, Beti, Bakunan, Pakau, Lawanguwang, Rangankau, Sungai Medang, Teweh, Tewai Baru, Honja, Sungai Tabang, Barong Tongkok, Maput, Mantalat, Tandur, Lohai, Pakaiunai, Tambera, Batu Ajan, Pendreh, Beriwit, Okki, Bukit Pandan, Telawi, Liangpran, dan Luang. Sistem lahan yang mendominasi wilyah berturut turut, Teweh, Maput, Bukit Pandan, Lawanguwang dan Pendreh dengan masing – masing luasan 18.78%, 12.75%, 12.74%, 19.48% dan 7.05%.

Sumberdaya Hutan.  luas kawasan hutan Kabupaten Kutai Barat kurang lebih 2.23 juta ha (70% dari luas Kabupaten), yang terdiri atas Hutan Produksi, Hutan Lindung, dan Cagar Alam. Berdasarkan luas tajuk yang menutupi hutan, areal hutan meliputi 1.22 juta ha atau 55% dibandingkan dengan luas kawasan hutan secara keseluruhan sedangkan sisanya 45% lagi sudah mengalami kerusakan serius. Hutan di Kabupaten Kutai Barat didominasi oleh Dipterocarpaceae atau Meranti (85%), sedangkan sisanya (15%) ditumbuhi hutan jenis ulin, medang, benuang, palajau, nyatoh, dan rotan, bamboo, pakis, nipah serta anggrek.

Sumberdaya Tambang. Kutai Barat memiliki berbagai macam sumberdaya tambang dan dalam jumlah besar yang meliputi emas, antimonit, besi, perak, batu gamping, intan, kaolin, kristal, dan pasir kuarsa serta tembaga. Namun demikian, secara umum produk unggulannya adalah emas dan batubara.

Sumberdaya Perikanan. Sekitar 223 Kampung atau kelurahan berada di lembah atau daerah aliran sungai, yang sebagian besarnya wilayahnya dilalui oleh Sungai Mahakam yang panjangnya mencapai 920 km dengan anak-anak sungai yang cukup lebar. Potensi air yang besar tersebut didukung oleh kawasan hutan tropis yang mampu menghasilkan debit air yang sangat besar di daerah hulu. Di samping itu, dengan ada danau-danau seperti Danau Jempang yang luasnya mencapai 15.000 ha, dan Danau Barong, 25 ha, ikut menunjang potensi perikanan di daerah ini.

Sumberdaya Pariwisata. Kekhasan budaya daerah pedalaman dengan berbagai ragam upacara adat masyarakat Dayak serta sentra yang dikelola oleh masyarakat lokal merupakan asset pariwisata yang sangat besar. Potensi pariwisata yang terdapat di Kutai Barat adalah: (1) Jempang: seni budaya tradisional dan kerajinan suku Dayak Benuaq, (2) Damai, Long Pahangai, Muara Lawa: lamin adat dan seni budaya tradisional suku Dayak Penihing, (3) Long Bangun, Long Iram: seni budaya tradisional dan lamin adat suku Dayak Kenyah, (4) Barong Tongkok, Damai, Melak, Taman Anggrek Kersik Luway, dan (5) Long Iram: lamin adat dan seni budaya tradisional suku Dayak Tunjung. Potensi pariwisata yang lain, antara lain, adalah: (1) potensi olahraga air yang banyak digemari oleh wisatawan mancanegara  yang dapat dikembangkan di bagian hulu Sungai Mahakam yang banyak sekali riamnya, (2) Danau Jempang yang terdapat di Kecamatan Jempang dengan luas 15.000 ha, yang secara utuh didukung oleh hutan belantara di mana dapat dijumpai berbagai jenis pakis, rotan, bambu dan aneka ragam pohon buah-buahan, (3) Cagar Alam Taman Anggrek Kersik Luway dengan luas 5.000 ha yang terletak di Kecamatan Barong Tongkok, Melak dan Damai atau Dataran Tinggi Tunjung di mana banyak terdapat bermacam-macam anggrek, termasuk anggrek hitam yang tergolong langka dan dilindungi serta berbagai jenis ular dan satwa serta ikan di perairan air tawar seperti rawa, sungai, dan danau.

Sumberdaya Kelembagaan. Lembaga Pemerintah  (DPRD)  secara aktif menjalankan fungsi legislasi dan kontrol terhadap Pemerintah dan lembaga adat yang berakar pada kearifan-kearifan tradisional yang pernah ada, sehingga  hasil-hasil karya budaya lokal dapat digali dan dikembangkan untuk mendukung terciptanya “good governance.”  Dalam rangka menyalurkan aspirasi masyarakat Kabupaten Kutai Barat yang berada dalam komunitas kampung, maka dibentuk Badan Perwakilan Kampung (BPK). Di samping itu, Pemerintah juga mendorong terbentuknya lembaga kepemudaan yang tumbuh dari inisiatif dan kepentingan masyarakat sehingga lembaga tersebut dapat berperan dalam menumbuh-kembangkan inovasi-inovasi dan aktivitas kepemudaan secara mandiri.

Sumberdaya Budaya. Masyarakat  Kabupaten Kutai Barat telah memiliki peradaban dan kebudayaan yang tinggi, meskipun polarisasi dan asosiasi budaya lokal dan budaya pendatang terjadi secara perlahan-lahan, kehadiran para pendatang yang tinggal dan hidup bersama dengan penduduk lokal dalam waktu lama dapat diterima dengan baik. Ini merupakan indikasi adanya keterbukaan budaya lokal terhadap nilai-nilai baru yang diperkenalkan para pendatang. Sifat dan sikap positif seperti ini merupakan potensi sosial budaya sangat bermanfaat dalam pengembangan ekonomi secara keseluruhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *